Gadis Desa

Seorang anak yang tidak punya payung/sandaran harus berusaha keras sendiri (kiasan untuk sosok orang yang harus mandiri tanpa bergantung pada orang lain (orangtua).

Pada kesempatan ini, erabaru.net kembali mengangkat sebuah kisah tentang seorang gadis desa yang harus bekerja keras demi menghidupi dirinya dan keluarga.

Setiap hari selama dua bulan ini, Vanesa (Samaran), seorang mahasiswi dari desa kelahiran tahun 90-an ini, bayangannya yang tampak kurus dan lemah selalu terlihat keluar masuk pabrik sambil memanggul semen di pundaknya.

Tampak Vanesa sedang memanggul sekarung semen.

Demi memenuhi biaya hidup sehari-hari, kuliah dan mengurangi beban keluarganya di kampung, sejak musim panas lalu, Vanesa bekerja di sebuah pabrik semen.

Begitu mobil pengangkut semen datang, sesosok perempuan yang kurus dan tampak lemah ini pun segera berlari ke belakang mobil untuk memanggul semen.

Setiap hari di kelilingi oleh debu-debu yang bertebaran, sehingga wajah, rambut dan sekujur tubuhnya tampak kotor dan dekil.

Anak-anak pedesaan, dimana karena kondisi ekonomi yang kurang memadai, akan jauh lebih tahan banting dibanding anak-anak sebaya dari kalangan berada.

Sementara di sisi lain, orang-orang sering mengatakan bahwa anak-anak kota “tidak tahan banting” (tidak kuat menahan derita kerasnya hidup). Lantas apa itu “tahan banting?”

Mengapa anak-anak diharuskan “tahan banting/kuat menahan derita hidup?”

Seorang bapak yang juga kuli semen bersama dengan Vanesa bertanya kepadanya.

“Kamu seorang mahasiswa kenapa jadi kuli semen di sini, kenapa tidak mencari pekerjaan lain yang lebih pantas untuk seorang perempuan?”

Tapi jawaban Vanesa membuat bapak itu tersentuh dan seketika tidak bisa berkata apa-apa.

Vanesa hanya mengatakan dengan hambar, “Upah sebagai kuli semen jauh lebih tinggi, sehari bisa mendapatkan Rp. 400 ribu, dan aku tidak perlu khawatir lagi dengan biaya (kuliah) semester berikutnya, selain itu juga bisa mengirim sisa uang kepada keluarga di rumah.”

Uang yang diterimanya dari bekerja sampingan ini tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan pribadinya, tapi juga membiayai pengobatan ibunya di kampung.

Vanesa sering mengirim uang kepada orangtuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan di desa.

Selama ini orangtuanya tidak tahu bahwa dia bekerja sampingan sebagai kuli semen.

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.